Selasa, 02 Oktober 2012

Teori-teori Belajar Awal

(10-005) Cut Rafyqa F
(10-010) Rosa Mentari P
(10-060) Ahmad Fauzi

 
PENGKONDISIAN KLASIK DAN KONEKSIONISME
Argumen Dasar Behaviorisme
      John Watson berpendapat bahwa semua organisme menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui respons, dan respons-respons tertentu biasanya disebabkan oleh peristiwa (stimuli) tertentu. Dengan mempelajari perilaku, psikolog akan mampu untuk memprediksi respons yang ditimbulkan lewat stimulus, dan sebaliknya. Istilah behaviorisme merujuk pada beberapa teori yang mengandung tiga asumsi dasar tentang belajar, yaitu :
1.      Yang menjadi fokus studi seharusnya adalah perilaku yang dapat diamati, bukan kejadian mental internal atau rekonstruksi verbal atas kejadian
2.       Perilaku harus dipelajari melalui elemennya yang paling sederhana (stimuli spesifik dan respons spesifik). Contoh reaksi behavioral yang diteliti oleh periset awal antara lain gerak refleks, reaksi emosional yang dapat dilihat, dna respons motor (gerak) dan verbal
3.      Proses belajar adalah perubahan behavioral. Suatu respons khusus terasosiasikan dengan kejadian dari suatu stimulus khusus, dan terjadi dalam kehadiran stimulus tersebut.

Pavlov dan Pengkondisian Klasik
Pavlov adalah seorang ilmuwan yang secara tidak sengaja menemukan cara untuk mengontrol perilaku sederhana saat meneliti refleks keluarnya air liur anjing. Dia sendiri, sedemikian menurut kisahnya, menemukan bahwa reaksi tidak sengaja, keluarnya air liur, dapat dilatih untuk merespons suara yang tidak berhubungan dengan makanan.
        Dalam relasi alamiah, stimulus dan reaksi otomatisnya disebut sebagai unconditioned stimulus (UCS) atau stimulus yang tidak dikondisikan, dan unconditioned response (UCR) atau respon yang tidak dikondisikan. Dalam relasi yang baru, yang terbentuk sebagai hasil dari training, stimulus baru disebut conditioned stimulus (CS). Reaksi yang terlatih merespons stimulus baru disebut conditioned response (CR). Berikut prosesnya :
Makanan (UCS) à Saliva/keluarnya air liur (UCR)
Suara garpu à No saliva (tidak keluar air liur)
Makanan (UCS) + suara garpu (CS) à Saliva (UCR)
Suara garpu (CS) à Saliva (CR)

Teori Emosi
       Watson mngidentifikasi tiga reaksi emosional bayi yang bersifat maluriah. Artinya, reaksi itu terjadi secara alami, yaitu cinta, marah, dan takut (Watson, 1928; Watson & Morgan, 1917).

Eksperimen Pengkondisian terhadap Albert
John Watson mengidentifikasi ada tiga reaksi emosional alamiah pada bayi yaitu cinta, takut, dan marah. menurutnya, emosi individu melibatkan pengkondisian dari tiga reaksi emosi tersebut. Watson melakukan eksperimen terhadap Albert, 11 bulan untuk mengkondisikan rasa takutnya terhadap objek yang berbulu halus.
Reaksi positif dan negatif dapat dikondisikan terhadap berbagai objek atau kejadian. Reaksi parental terhadap suatu objek juga dapat mempengaruhi reaksi emosi anak terhadap objek tersebut (suka atau takut). Reaksi emosional juga dapat terjadi dengan satu kali pemasangan stimuli saja. Misalnya ketika seseorang hendak kecelakaan di simpang tiga jalan, sehingga detak jantungnya menjadi cepat, keringat dingin, dan ketika dia melewati simpang tersebut di lain waktu, dia juga mengalami reaksi psikologis yang sama kembali. Di dalam kelas munculkan suatu yang dapat menimbulkan reaksi positif terhadap suatu tindakan. Misalnya,menempatkan karpet di sudut kelas agar dapat tercipta tempat membaca yang nyaman sehingga menimbulkan reaksi positif terhadap kegiatan membaca tersebut. Guru harus bisa dan pintar untuk menyiapkan strategi-strategi khusus agar anak terhindar dari reaksi negative yang ditimbulkan karena suatu kegiatan. Sehingga tidak ada transfer reaksi emosional yang negative dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya di kelas. 

Pengkondisian Klasik di Ruang Kelas
Salah satu strategi adalah menggunakan relasi yang sudah ada yang menimbulkan reaksi positif. Misalnya, membaca adalah aktivitas penting dalam proses belajar guna memahami sastra. Menempatkan karpet di satu sudut ruangan menimbulkan reaksi positif dalam pengalaman membaca.
Strategi semacam itu terutama penting dalam situasi dimana latar atau aktivitas khusus diperkirakan akan menimbulkan reaksi negatif. Misalnya, bagi beberapa anak, situasi yang asing akan menyebabkan reaksi cemas. Memperkenalkan aktivitas yang sulit, seperti pelajaran matematika, di hari pertama sekolah mungkin akan menimbulkan asosiasi reaksi cemas terhadap matematika. Strategi positif yang tampak di beberapa kelas sekolah dasar diantaranya adalah menyambut anak dengn hangat saat mereka datang dan mengawali pelajaran dengan aktivitas menggambar atau mewarnai. Selain itu, tidak ada aktivitas sulit yang diperkenalkan selama minggu pertama saat anak-anak sedang membiasakan diri dengan aktivitas di ruang kelas. Guru mengurangi potensi kecemasan dengan memasangkan latar yang tidak terbiasa dengan aktivitas yang menyenangkan.

Kooneksionisme Edward Thorndike
Teori thorndike biasa dirujuk sebagai teori behavioris namun berbeda dengan pengkondisian klisik. Pertama, Thorndike berfokus pada proses mental dan kedua pada perilaku mandiri.
Thorndike memilih bereksperimen dengan kondisi terkontrol. Dalam penelitiannya,hewan dikurung di dalam kandang dengan meletakkan makanan di luar. Tugas hewan adalah membuka sangkar dan mengambil makanan. Eksperimen ini disebut pengkondisian instrumental untuk merefleksikannya dengan pengkondisian klasik dan dikenal sebagai teori moneksionisme karena hewan membangun koneksi antara stimuli dengan perilaku mandiri.
Thorndike mengidentifikasikan tiga hukum belajar
1.      Hukum efek : suatu keadaan yang memuaskan setelah respon akan memperkuat koneksi antara stimulus dan perilaku yang tepat,dan keadaan yang menjengkelkan akan melemahkan koneksi tersebut.
2.      Hukum latihan : pengulangan dari pengalaman akan meningkatkan peluang respon respon yang benar.
3.      Hukum kesiapan : kondisi yang mengatur keadaan disebut sebagai ‘’memuaskan” atau “menjengkelkan”

Psikologi Gestalt
Gestalt berfokus pada persepsi dalam belajar. Individu merespon keseluruhan ketimbang sebagian, individu akan membangun persepsi ketimbang hanya menerima informasi secara pasif.

Asumsi daar teori Gestalt
1.      Perilaku molar adalah perilaku yang harus dipelajari
2.      Individu memahami aspek dari lingkungan sebagai stimuli
3.      Lingkungan geografis berbeda dengan behavioris yang merupakan cara sesuatu meuncul.
4.      Organisasi lingkungan sensoris adalah interaksi dinamis dari kekuatan-kekuatan di dalam struktur yang mempengaruhi persepsi individu.

Hukum Gestalt dasar
1.      Hukum Pragnanz
Hukum ini menunjukkan pengorganisasian psikologis terhadap sekelompok stimuli. Dalam setiap rangkaian stimulus,individu akan mempersepsikan stimulus yang paling komperhensif, stabil, dan bebas dari sebab-akibat.
2.      Hukum terkait
Hukum organisasi perseptual memdeskripsikan empat karakteristik utama dari bidang visual yang mempengaruhi persepsi. Karakteristik itu adalah kedekatan dari setiap elemen, ciri yang sama, tendensi elemen, dan kontribusi elemen 

Belajar Berubah-Ubah dan Bermakna
           Dalam mengaplikasikan konsep struktur dan keseluruhan ke dalam analisis belajar, Wertheimer membedakan antara metode belajar “tanpa makna” dan belajar “bermakna” di kelas (Katona 1967). Wertheimer (1945/1959) mengamati bahwa setelah anak mempelajari pendekatan pemecahan masalah tertentu, seperti menentukan luas jaringan jenjang, mereka sering kali tidak mampu melihat pendekatan lain untuk tugas serupa. Mereka biasanya berkata “Kami belum tahu.”
      Implikasi dari contoh ini adalah bahwa penyediaan informasi yang membantu siswa untuk mereorganisasi sudut pandang masalah harus menjadi bagian integral dari pengajaran pemecahan masalah.

Faktor-faktor Spesifik dalam Pemecahan Masalah
     Teoritisi Gestalt lainnya mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi dalam pemecahan masalah. Konsep yang relevan untuk saat ini adalah latihan mentransfer, pendekatan masalah dan kelakuan fungsional, dan belenggu masalah.

Latihan Menstransfer. Riset Katona menindikasikan bahwa metode yang disebut  sebagai “penemuan dengan panduan” adalah metode yang paling efektif. Dia mengilutrasikan  enam transisi dalam konfigurasi korek api dengan hanya memindahkan beberapa barang korek. Misalnya dengan memindahkan tiga batang dapat menciptakan “lubang” di tengah konfigurasi. Metode ini memberikan petunjuk untuk memecahkan problem lain dengan mengilutrasikan prinsip struktual bahwa satu batang korek mungkin berfungsi sebagai satu sisi dalam dua segi empat secara bersamaan.

Pendekatan Masalah dan Kekakuan Fungsional. Analisis Duncker terhadap pemecahan masalah yang sukses mengindikasikan ada tiga langkah umum, yaitu: (a) memahami konflik atau masalah; (b) mengembangkan identifikasi secara jelas dan atas kesulitan dasar, dan (c) mengembangkan solusi masalah untuk mengatasi kesulitan dasar.

Belenggu Masalah. Konsep yang terkait adalah belenggu masalah atau Einstellung. Konsep ini di identifikasi oleh Abraham Luchins (1942), yang diartikan sebagai kelakuan dalam pemecahan masalah karena individu menganggap serangkaian masalah mesti dipecahkan dengan cara yang sama.

PERBANDINGAN ANTARA BEHAVIORISME DAN TEORI GESTALT
      Kedua teori ini mengilutrasikan perkembangan pengetahuan melalui pengukuran yang akurat dan riset dalam kondisi yang terkontrol.

Aplikasi ke Pendidikan
       Psikologi Behaviorisme dan Gestalt mendasarkan risetnya pada asumsi yang berbeda mengenai sifat dan belajar dan fokus pada studinya. Behaviorisme mendefinisikan belajar sebagai perubahan perilaku dan mengidentifikasikan stimuli dan respons spesifik sebagai fokus set. Sebaliknya, psikologi Gestalt berpendapat bahwa seseorang merespons stimuli yang terorganisasi dan persepsi perorangan adalah faktor penting untuk memcahkan masalah.

Behaviorisme
      Pengkondisian klasik menunjukkan bahwa penjajaran stimuli dapat menghubungkan reaksi terhadap stimuli baru. Selain kontribusi untuk psikologi (deskripsi neuroses dan faktor dalam kecanduan obat), pengkondisian klasik juga membahas aspek-aspek dari situasi sehari-hari.

Psikologi Gestalt
       Isu yang diangkat psikologi Gestalt untuk masalah pendidikan adalah soal makna, pemahaman, dan wawasan yang merupakan karakteristik manusia ((Wertheimer, 1991). Program komputer, sebaliknya, dapat menjadi model pemecahan masalah manusia hanya setelah informasi yang relevan tentang masalah diperoleh dan dimasukkan dalam program. Hal penting dalam belajar pemecahan masalah adalah memahami elemen sentral dan membedakannya dari elemen periferal atau tidak penting (Wertheimer).


Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Rabu, 26 September 2012

Tugas Individu: Fungsi Umum Teori Belajar dengan Pengalaman serta Kaitan dengan Perspektif Psikologis

Fungsi Umum Teori Belajar
Fungsi
Contoh
1.        Sebagai Kerangka Teori
Dahulu ketika saya kelas kecil, saya suka sekali membeli mainan meskipun mainan lama saya masih baru dan bagus, namun bila saya menginginkan suatu mainan baru saya bersikeras memintanya, hingga suatu hari ibu saya mengajak saya bermain ke rumah sepupu ibu saya yang hidupnya sangat sederhana dan memiliki seorang anak yang seumuran dengan saya. Saya sangat prihatin dengan anak bibi saya tersebut yang hanya memiliki satu mainan yaitu boneka yang sangat jelek dan lusuh, namun ia sangat menyayangi bonekanya tersebut. Ibu saya lalu menasihati saya agar tidak boros dan saling berbagi terhadap saudara apabila kita memiliki kelebihan. Saya jadi ingat dan sadar bahwa saya seharusnya tidak boleh semena-mena terhadap barang saya. Ini merupakan proses pembelajaran yang penting untuk saya bahwa kita tidak boleh berlebihan terhadap suatu hal karena itu tidak baik.
2. Memberikan kerangka organisasi untuk item-item informasi.
Ketika belajar di masa perkuliahan sekarang ini, saya dan teman-teman memiliki cara belajar yang berbeda. Misal, saya belajar dengan membuat ringkasan dan point-point pentingnya saja, ada teman saya yang belajarnya dengan membuat mind map, juga ada teman saya yang belajar hanya dengan membaca buku saja dengan mewarnai bagian-bagian yang penting. Hingga akhirnya saya memahami bahwa cara setiap orang belajar itu berbeda-beda sesuai kemampuan dan dengan cara yang paling memudahkannya untuk memahami suatu materi. Meskipun cara kami berbeda namun kami dapat memahami materi-materi di mata perkuliahan tersebut dengan baik.
3.  Mengidentifikasi sifat dari peristiwa yang kompleks
Ketika kecil, setiap kali hujan turun langit terkadang memiliki warna-warna yang disebut pelangi. Saya berpikir bahwa bidadari turun dan telah mewarnai langit. Namun setelah belajar IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) di Sekolah Dasar saya baru tahu bahwa warna-warna dalam pelangi tersebut merupakan pembiasan dari sinar-sinar matahari oleh air hujan.
4. Mereorganisasi pengalaman sebelumnya
Ketika kecil saya selalu melihat kedua orang tua shalat dan saya selalu mengikuti dan menghafal gerakan-gerakan shalat tersebut. Ketika orang tua saya hendak mengajarkan saya shalat mereka terkejut karena saya sudah lancar melakukan gerakan-gerakan dalam shalat tersebut, sehingga saya tinggal mempelajari bacaan-bacaan dalam shalat saja. Proses belajar saya dalam melakukan gerakan-gerakan dalam shalat tersebut awalnya merupakan peniruan langsung atas perilaku yang saya amati.
5. Bertindak sebagai penjelasan kerja dari peristiwa
Dahulu ketika saya belum memakai jilbab, ayah ibu saya selalu menasihati saya dan melarang saya keluar rumah apabila saya tidak memakai jilbab. Sehingga apabila keluar rumah saya selalu memakai jilbab dengan perasaan kesal dan tidak ikhlas (bahkan saya melepasnya diam-diam tanpa sepengetahuan kedua orang tua saya :D ). Hingga suatu hari ketika saya menghadiri acara ulang tahun teman saya dan kebetulan memakai jilbab guru saya mengatakan bahwa beliau salut dan senang melihat saya memakai jilbab karena itu kewajiban seorang muslim, dan menganjurkan untuk memakai terus dan tidak pernah melepasnya. Saya juga di puji oleh ibu-ibu dari teman-teman saya bahwa saya cantik memakai jilbab. Sejak saat itu saya selalu memakai jilbab kemana pun saya pergi dan tidak pernah melepasnya karena saya itu merupakan kewajiban seorang muslim dan saya selalu memakainya dengan senang. Saya sadar bahwa apa yang selama ini disuruh oleh kedua orang tua saya adalah benar.

Perspektif Psikologis Tentang Faktor-Faktor Utama Dalam Belajar

1.      Perspektif Behavioris
 Menurut teori behavioristik belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon yang disertai adanya penguatan, reward, dan punishment. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya.
 Pada kasus pengalaman-pengalaman saya di atas telah terjadi proses pembelajaran behavioris dimana ada perubahan tingkah laku saya sebagai hasil dari pengalaman karena adanya stimulus dan respon, yaitu pada pengalaman satu dan lima.
 Pada pengalaman satu proses pembelajaran yang saya alami adalah saya tidak semena-mena terhadap barang-barang saya dan saya belajar untuk berbagi dengan saudara saya. Pada pengalaman lima proses belajarnya adalah saya menjadi memakai jilbab tanpa paksaan karena adanya penguatan dan reward.

2.      Perspektif Kognitif
Teori belajar kognitif merupakan suatu teori belajar yang lebih mementingkan proses belajar itu sendiri. Belajar tidak hanya sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon, lebih dari itu belajar melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks.
Pada pengalaman tiga di atas telah terjadi proses belajar kognitif dimana pada awalnya saya berpikir bahwa setiap muncul pelangi bidadari telah turun dan mewarnai langit. Namun ketika saya belajar IPA di Sekolah Dasar saya mengalami proses berpikir yang kompleks yaitu saya mempelajari bahwa berdasarkan teori ilmu pengetahuan mengatakan bahwa pelangi merupakan pembiasan dari sinar-sinar matahari oleh air hujan. Saya menjadi mengerti mengapa pelangi muncul dan proses terjadinya pelangi.

3.      Perspektif Interaksionis 
Perspektif interaksionis ini memandang bahwa proses belajar dipengaruhi oleh model dan faktor lingkungan dan personal terhadap perilaku. Contohnya pada pengalaman empat saya di atas dimana saya bisa mempelajari gerakan-gerakan dalam shalat di pengaruhi oleh model yaitu orang tua saya dengan saya meniru perilaku orang tua saya tersebut.

4.      Teori Perkembangan Interaksionis
Menurut teori perkembangan interaksionis yaitu bahwa teori yang mempelajari tentang symbol-simbol budaya yang mempengaruhi proses belajar individu. Ini terjadi pada pengalaman lima saya di atas, bahwa proses yang saya alami dalam memakai jilbab adalah pengaruh dari simbol-simbol dan budaya di daerah tempat saya tinggal, yaitu Aceh dimana kental akan syariat Islamnya sehingga semakin memotivasi saya dan memahami bahwa memakai jilbab itu penting dan wajib.


Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Sabtu, 22 September 2012

Mind Map Bab I Tinjauan Belajar




Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Sabtu, 15 September 2012

Hasil Diskusi Analisis Pengalaman Kelompok



Kondisi belajar menurut Gagne adalah keterampilan, apresiasi, penalaran manusia, dengan semua variasinya, harapan, aspirasi, sikap, nilai-nilai manusia, perkembangannya sebagian besar bergantung pada peristiwa yang disebut dengan belajar ( Gagnẻ,1985,h.1). Lima variasi yang dianggap Gagnẻ memenuhi kriteria, yaitu :

1.      Informasi verbal, dimana dalam hal ini individu dapat menyatakan nama-nama sesuatu, fakta, atau membuat kalimat untuk tema utama atau ide dalam wacana.
2.      Keterampilan intelektual, dimana individu mampu menyusun kalimat, menjumlahkan angka dua digit, memecahkan soal aljabar, dan mengidentifikasi warna.
3.      Keterampilan motorik mencakup sekuensi atau tindakan fisik seperti menunjukkan kepak sayap kupu-kupu.
4.      Sikap yang memengaruhi tindakan positif atau negatif terhadap orang lain.
5.      Strategi kognitif mencakup kapabilitas yang mengontrol belajar, mengingat, dan berpikir.

Dalam teori Gagne juga terdapat konsep kondisi belajar internal dan eksternal. Kondisi belajar (Gagne) adalah suatu situasi belajar (learning situation) yang dapat menghasilkan perubahan perilaku (performance) pada seseorang setelah ia ditempakan pada situasi tersebut. Kondisi internal adalah kemampuan yang telah ada pada diri individu sebelum ia mempelajari sesuatu yang baru dengan kata lain berarti kondisi yang mempengaruhi belajar siswa yang ditimbulkan oleh mereka sendiri, seperti motivasi belajar, keadaan psikologis, fikiran dan sebagainya. Kedua, kondisi belajar eksternal, yaitu kondisi belajar yang ditimbulkan dari luar diri mereka, dalam hal ini adalah lingkungan belajar siswa. Kondisi eksternal adalah peristiwa khusus dan unik yang memungkinkan belajar (Gagne, 1985), khususnya peristiwa yang mengandung stimulus yang ada di luar diri pembelajar seperti penjadwalan dan pengurutan.
Ketiga pengalaman anggota kelompok dapat dihubungkan dengan konsep kondisi belajar Robert Gagne. Yang pertama, sesuai dengan konsep kondisi internal dan eksternal, dimana terdapat motivasi dan keinginan dari diri kami sendiri dalam belajar dan bertindak. Dalam kasus Rosa, ia mempunyai sikap positif terhadap menari, sehingga ia mau mempelajari gerakannya dan kondisi eksternal dimana ia memperhatikan guru tari nya dalam menarikan tarian Tanggai, begitu juga dengan Cut dengan kondisi eksternalnya, yaitu sepedanya yang rusak mambuat ia berani mengambil tindakan dan keputusan untuk mengadukan temannya kepada guru, lalu Fauzi yang memiliki keinginan dari dalam dirinya untuk belajar memasak mie instan dan kondisi eksternal dimana ia juga memperhatikan orang sekitar yang memasak mie instan.
Pengalaman anggota kelompok juga dapat dibahas dengan konsep 5 kategori belajar. Bahwa setiap orang belajar atau mengalami pembelajaran dengan 1 atau lebih dari kategori belajar ini. Pengalaman menari yang dialami Rosa melibatkan 3 kategori, yaitu sikap positif terhadap menari sehingga ia berkeinginan untuk mempelajarinya, motorik yang bekerja ketika ia menggerakkan tangan, kepala, kaki, dan bagian tubuh lainnya untuk menari, dan kognitif yang ia gunakan dalam berpikir, mencerna, dan mengingat gerakan yang telah dipelajari. Pada pengalaman Cut Rafyqa Fadhilah terjadi variasi belajar Gagne yaitu keterampilan intelektual dan strategi kognitif Cut dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi Cut sehingga menjadikan pembelajaran untuk Cut kedepannya dalam menghadapi masalah serupa ataupun masalah lainnya dimana keterampilan intelektual dan strategi kognitif sangat berperan penting dalam memecahkan masalah (problem solving). Fauzi juga melibatkan keterampilan intelektual dimana Fauzi akan belajar bahwa dua bungkus bumbu mie instan akan terasa asin sekali ketika saya memasaknya dengan sedikit air atau tidak akan terasa jika saya memasak lima bungkus.


Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Pengalaman Belajar

Ketika saya kecil, kira-kira kelas dua SD, saya mengalami masalah dalam perjalanan pergi ke sekolah. Saya selalu mengendarai sepeda karena saya ingin bersama teman-teman saya yang mengendarai sepeda juga. Namun sepeda saya selalu mengalami masalah, yaitu ban sepedanya selalu di bocorkan oleh anak-anak nakal. Sehingga ketika pulang sekolah saya harus mendorong dan tidak dapat menaikinya. Lalu saya mengadu kepada orang tua saya dan mereka menyarankan agar saya tidak membawa sepeda lagi, namun saya tidak setuju karena saya suka mengendarai sepede ke sekolah.
Lalu saya memutuskan untuk menitipkannya di rumah teman saya yang tidak jauh dari sekolah, tetapi ketika pulang saya melihat sepede saya menjadi kotor, ternyata sepeda itu dimainkan dan di beri lumpur oleh adik teman saya itu yang masih kecil, saya sangat sedih. Saya juga mengadukan hal tersebut kepada orang tua saya dan mereka kembali menyarankan agar saya tidak usah lagi membawa sepeda ke sekolah. Saya tetap tidak mau. Karena kesal orang tua saya lalu menyuruh saya untuk memilih sendiri solusi, yaitu ingin tetap bawa sepeda tapi sepeda saya selalu mengalami masalah atau tidak usah membawa sepeda dan diantar jemput saja. 
Saya menjadi bingung, namun esok harinya saya tetap membawa sepeda ke sekolah. Sepanjang belajar di kelas saya menjadi tidak tenang karena takut sepeda saya mengalami masalah lagi. Lalu ketika istirahat saya melihat teman yang membuang sampah sembarangan di tegur oleh guru, maka saya mendekati guru tersebut bersama teman-teman lainnya dan menceritakan masalah sepeda saya. Guru terkejut mendengarnya dan berjanji akan mengadukan hal tersebut kepada kepala sekolah. Setelah diberitahu kepala sekolah, parkiran menjadi aman karena dipekerjakan seorang satpam yang menjaga parkiran tersebut sehingga anak-anak nakal menjadi tidak berani membuat keusilan di parkiran sepeda. Sayapun senang karena sepeda saya tidak bermasalah lagi.
            Menurut Gagne, belajar merupakan proses yang memungkinkan manusia  memodifikasi tingkah lakunya secara permanent, sedemikian sehingga modifikasi yang sama tidak akan terjadi lagi pada situasi baru. Berdasarkan  pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa belajar merupakan perubahan tingkah laku manusia setelah melalui proses. Perubahan tingkah laku terjadi karena suatu pengalaman dan bukan karena pertumbuhan atau kematangan. Dengan demikian belajar terjadi bila seseorang memberikan respon terhadap stumulus yang dating dari luar dirinya. Hal ini berarti bahwa perubahan tingkah laku seseorang sebagai hasil belajar hanya terjadi apabila orang tersebut mengadakan interaksi dengan lingkungan. Pengalaman sepeda saya tersebut membuat saya menjadi berani mengambil tindakan, yaitu dengan melaporkan hal tersebut kepada guru saya sehingga sepeda saya tidak bermasalah lagi. Saya merespon hal yang menimpa sepeda saya tersebut sehingga berinteraksi dengan lingkungan saya.
Pengalaman di waktu kecil saya tersebut, menurut Gagne termasuk dalam tipe belajar memecahkan masalah (problem solving). Tipe ini merupakan tipe belajar yang menggabungkan beberapa kaidah untuk memecahkan masalah, sehingga terbentuk kaedah yang lebih tinggi (higher order rule). Dalam proses pembelajaran pada pengalaman saya tersebut, hasil belajar yang saya temukan adalah:

Keterampilan Intelektual
Keterampilan intelektual adalah hasil belajar yang memungkinkan seseorang berintraksi dengan lingkungan melalui penggunaan symbol-simbol atau gagasan-gagasan. Belajar ketrampilan intelektual sudah dimulai sejak pendidikan dasar dan selama sekolah, seseorang mempelajari banyak sekali ketrampilan intelektual. Menurut penggolonganya ketrampilan yang lebih rendah menjadi presyarat untuk mendapatkan ketrampilan yang lebih tinggi. Jadi untuk belajar memecahkan masalah, siswa memerlukan aturan-aturan tingkat tinggi. Pengalaman sepeda saya tersebut membuat saya menjadi berani mengambil tindakan, yaitu dengan melaporkan hal tersebut kepada guru saya agar sepeda saya tidak bermasalah lagi. Sehingga setiap masalah yang akan muncul terhadap sepeda saya atau hal lainnya membuat saya cepat mengambil tindakan sehingga keterampilan intelektual saya menjadi semakin meningkat.

Strategi-strategi kognitif
Strategi kognitif  merupakan suatu proses control yaitu suatu proses mental yang digunakan siswa (orang yang belajar) untuk memiliki dan mengubah cara-cara memberikan perhatian, belajar mengingat dan berfikir.
Pengalaman dengan sepeda saya tersebut yaitu mengadukannya kepada guru merupakan strategi kognitif, yaitu strategi dan cara saya dalam memilih memecahkan masalah tersebut.


Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO