Selasa, 09 Oktober 2012

Analisa Pengalaman Pribadi Berdasarkan Teori Skinner

Pengalaman Pribadi
Dahulu ketika saya belum memakai jilbab, ayah ibu saya selalu menasihati saya dan melarang saya keluar rumah apabila saya tidak memakai jilbab. Sehingga apabila keluar rumah saya selalu memakai jilbab dengan perasaan kesal dan tidak ikhlas. Waktu itu saya belum ingin memakai jilbab karena saya berpikir masih terlalu kecil dan dini untuk memulainya, meskipun ada sebagian teman-teman saya yang sudah mulai mengenakannya.
Hingga suatu hari ketika saya menghadiri acara ulang tahun teman saya dan kebetulan memakai jilbab, tiba-tiba guru saya mengatakan bahwa beliau senang dan bangga melihat saya memakai jilbab karena itu merupakan kewajiban seorang muslim, dan menganjurkan untuk memakai terus dan tidak pernah melepasnya. Saya juga di puji oleh ibu-ibu dari teman-teman saya bahwa saya cantik memakai jilbab. Akhirnya saya mengenakan jilbab, setiap bertemu dengan guru saya tersebut di sekolah beliau akan memuji saya dengan mengatakan “Hai Icut gadis muslimah yang cantik..” hingga tersebar satu sekolah. Saya menjadi semangat untuk memakai jilbab dengan baik dan benar, meskipun guru tersebut tidak akan memuji saya lagi. Sejak saat itu saya selalu memakai jilbab kemana pun saya pergi dan tidak pernah melepasnya karena itu merupakan kewajiban seorang muslim dan saya selalu memakainya dengan senang.

Analisa Berdasarkan Teori Skinner
          Pengalaman saya tersebut menurut teori Skinner merupakan penguatan positif. Awalnya, saya tidak mau memakai jilbab namun karena diberi pujian (penguatan positif) akhirnya mengubah perilaku saya menjadi perilaku yang diinginkan. Saya yang awalnya tidak ingin memakai jilbab akhirnya mau memakai jilbab, disini terjadi perubahan tingkah laku karena adanya penguatan positif yang berhasil menguatkan perilaku saya.
          Penguatan sendiri bertujuan untuk memunculkan perilaku yang diinginkan. Karena adanya penguatan dari guru saya tersebut, saya akhirnya menjadi rutin memakai jilbab dan meskipun guru saya tidak memuji saya lagi, saya tetap memakai jilbab.


Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Minggu, 07 Oktober 2012

Analisis Film Kinky Boots


(10-005) Cut Rafyqa F
(10-010) Rosa Mentari P
(10-060) Ahmad Fauji



Sinopsis Film “ Kinky Boots”
Charlie Price, setelah ditinggal ayahnya meninggal baru menyadari bahwa pabriknya dalam keadaan sekarat. Kemudian muncul Lauren sang pemberi semangat, salah satu karyawannya yang akan dipecat, hingga memicu Charlie untuk berpikir keras menyelamatkan Prince&Son yang sudah lama berdiri sejak akhir abad 19. Akhirnya Charlie bertemu dengan seorang waria yang bernama Lola alias Simon. Charlie akhirnya mempunyai ide untuk membuat sepatu khusus untuk para waria dengan Lola sebagai perancangnya. Charlie pun jatuh bangun dalam usaha membangkitkan perusahaannya.
Film ini memberi inspirasi bagi semuaorang untuk tidak menyerah darikeadaan yang sangat sulit, karena seperti pepatah, ada banyak jalan menuju roma, tinggal bagaimana kita berusaha.

Pembahasan:
Film ini dapat dikaitkan dengan teori Gestalt dimana salah satu asumsi dasar perspektif gestalt mengatakan bahwa organisme merespon keseluruhan sensoris yang tersegregasi atau gestalten ketimbang pada stimuli spesifik atau kejadian yang terpisah atau independen. Dalam kaitannya dengan kasus yang terjadi pada Charli dalam film Kinky Boots, Charlie mengalami kejadian-kejadian yang membuat dia down, mulai dari ayahnya meninggal perusahaannya terancam bangkrut, dan pegawainya terpaksa di PHK. Disini Charlie memandang kejadian-kejadian ini dalam satu kesatuan dimana ia menjadi sedih dan putus asa. Selain itu asumsi keempat Gestalt mengatakan bahwa organisasi atau susunan dari stimuli di lingkungan itu sendiri adalah suatu proses, dan proses ini memengaruhi persepsi individu.  Dimana dalam film ini salah satu pegawai yang akan di PHK oleh Charlie, Lauren sang pemberi semangat mengatakan "ini semua salahku, apa yang harus aku lakukan?” Kata-kata ini memicu Charlie untuk bangkit kembali lalu mengubah persepsinya dan berpikir keras untuk menyelamatkan perusahaan dan karyawannya.
            Pendekatan lain yang kami gunakan adalah Teori Thorndike, yaitu tiga hukum belajar. Pertama, hukum efek (law of effects) menyatakan bahwa suatu keadaan yang dialami individu akan memengaruhi individu bertindak. Dalam hal Lola sempat menolak desain yang dibuat oleh Charlie, hal inilah yang membuat Charlie tidak pantang menyerah dan terus mencoba. Yang kedua, hukum latihan (law of exercise) menyatakan bahwa pengulangan dari pengalaman akan meningkatkan respon yang benar. Kegagalan, penolakan, dan jatuh bangun Charlie dalam membangun kembali perusahaannya, membuat Charlie menjadi orang yang lebih tegar dan mampu menganalisis kesalahan dimasa lampau sehingga dapat membuat sepatu yang akhirnya diminati dan laku di pasaran.
Yang ketiga, hukum kesiapan (law of readiness), dimana pelaksanaan tindakan dalam, merespons impuls yang kuat adalah memuaskan, sedangkan perintangan tindakan atau memaksakannya dalam kondisi lain adalah menjengkelkan. Dalam film ini, Charlie akan merespon kondisi dimana Lola menolak untuk bekerja dan mendesain sepatunya dengan perasaan kesal dan menjengkelkan. Namun, Lola akhirmya bersedia untuk mendesain dan bekerja di perusahaan Charlie, sehingga kondisi ini direspon memuaskan dan senang.
            Kesimpulannya, film ini dapat dijelaskan dengan teori-teori belajar, dimana lingkungan dan penglaman dapat membuat respons baru dan juga dapat menguatkan respons yang sudah ada.

Daftar Pustaka:
Gredler, Margareth E. 2011. Learning and Instruction: Teori dan Aplikasi, Ed. 6, Cet. 1.
              Jakarta: Prenada Group.



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Selasa, 02 Oktober 2012

Teori-teori Belajar Awal

(10-005) Cut Rafyqa F
(10-010) Rosa Mentari P
(10-060) Ahmad Fauzi

 
PENGKONDISIAN KLASIK DAN KONEKSIONISME
Argumen Dasar Behaviorisme
      John Watson berpendapat bahwa semua organisme menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui respons, dan respons-respons tertentu biasanya disebabkan oleh peristiwa (stimuli) tertentu. Dengan mempelajari perilaku, psikolog akan mampu untuk memprediksi respons yang ditimbulkan lewat stimulus, dan sebaliknya. Istilah behaviorisme merujuk pada beberapa teori yang mengandung tiga asumsi dasar tentang belajar, yaitu :
1.      Yang menjadi fokus studi seharusnya adalah perilaku yang dapat diamati, bukan kejadian mental internal atau rekonstruksi verbal atas kejadian
2.       Perilaku harus dipelajari melalui elemennya yang paling sederhana (stimuli spesifik dan respons spesifik). Contoh reaksi behavioral yang diteliti oleh periset awal antara lain gerak refleks, reaksi emosional yang dapat dilihat, dna respons motor (gerak) dan verbal
3.      Proses belajar adalah perubahan behavioral. Suatu respons khusus terasosiasikan dengan kejadian dari suatu stimulus khusus, dan terjadi dalam kehadiran stimulus tersebut.

Pavlov dan Pengkondisian Klasik
Pavlov adalah seorang ilmuwan yang secara tidak sengaja menemukan cara untuk mengontrol perilaku sederhana saat meneliti refleks keluarnya air liur anjing. Dia sendiri, sedemikian menurut kisahnya, menemukan bahwa reaksi tidak sengaja, keluarnya air liur, dapat dilatih untuk merespons suara yang tidak berhubungan dengan makanan.
        Dalam relasi alamiah, stimulus dan reaksi otomatisnya disebut sebagai unconditioned stimulus (UCS) atau stimulus yang tidak dikondisikan, dan unconditioned response (UCR) atau respon yang tidak dikondisikan. Dalam relasi yang baru, yang terbentuk sebagai hasil dari training, stimulus baru disebut conditioned stimulus (CS). Reaksi yang terlatih merespons stimulus baru disebut conditioned response (CR). Berikut prosesnya :
Makanan (UCS) à Saliva/keluarnya air liur (UCR)
Suara garpu à No saliva (tidak keluar air liur)
Makanan (UCS) + suara garpu (CS) à Saliva (UCR)
Suara garpu (CS) à Saliva (CR)

Teori Emosi
       Watson mngidentifikasi tiga reaksi emosional bayi yang bersifat maluriah. Artinya, reaksi itu terjadi secara alami, yaitu cinta, marah, dan takut (Watson, 1928; Watson & Morgan, 1917).

Eksperimen Pengkondisian terhadap Albert
John Watson mengidentifikasi ada tiga reaksi emosional alamiah pada bayi yaitu cinta, takut, dan marah. menurutnya, emosi individu melibatkan pengkondisian dari tiga reaksi emosi tersebut. Watson melakukan eksperimen terhadap Albert, 11 bulan untuk mengkondisikan rasa takutnya terhadap objek yang berbulu halus.
Reaksi positif dan negatif dapat dikondisikan terhadap berbagai objek atau kejadian. Reaksi parental terhadap suatu objek juga dapat mempengaruhi reaksi emosi anak terhadap objek tersebut (suka atau takut). Reaksi emosional juga dapat terjadi dengan satu kali pemasangan stimuli saja. Misalnya ketika seseorang hendak kecelakaan di simpang tiga jalan, sehingga detak jantungnya menjadi cepat, keringat dingin, dan ketika dia melewati simpang tersebut di lain waktu, dia juga mengalami reaksi psikologis yang sama kembali. Di dalam kelas munculkan suatu yang dapat menimbulkan reaksi positif terhadap suatu tindakan. Misalnya,menempatkan karpet di sudut kelas agar dapat tercipta tempat membaca yang nyaman sehingga menimbulkan reaksi positif terhadap kegiatan membaca tersebut. Guru harus bisa dan pintar untuk menyiapkan strategi-strategi khusus agar anak terhindar dari reaksi negative yang ditimbulkan karena suatu kegiatan. Sehingga tidak ada transfer reaksi emosional yang negative dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya di kelas. 

Pengkondisian Klasik di Ruang Kelas
Salah satu strategi adalah menggunakan relasi yang sudah ada yang menimbulkan reaksi positif. Misalnya, membaca adalah aktivitas penting dalam proses belajar guna memahami sastra. Menempatkan karpet di satu sudut ruangan menimbulkan reaksi positif dalam pengalaman membaca.
Strategi semacam itu terutama penting dalam situasi dimana latar atau aktivitas khusus diperkirakan akan menimbulkan reaksi negatif. Misalnya, bagi beberapa anak, situasi yang asing akan menyebabkan reaksi cemas. Memperkenalkan aktivitas yang sulit, seperti pelajaran matematika, di hari pertama sekolah mungkin akan menimbulkan asosiasi reaksi cemas terhadap matematika. Strategi positif yang tampak di beberapa kelas sekolah dasar diantaranya adalah menyambut anak dengn hangat saat mereka datang dan mengawali pelajaran dengan aktivitas menggambar atau mewarnai. Selain itu, tidak ada aktivitas sulit yang diperkenalkan selama minggu pertama saat anak-anak sedang membiasakan diri dengan aktivitas di ruang kelas. Guru mengurangi potensi kecemasan dengan memasangkan latar yang tidak terbiasa dengan aktivitas yang menyenangkan.

Kooneksionisme Edward Thorndike
Teori thorndike biasa dirujuk sebagai teori behavioris namun berbeda dengan pengkondisian klisik. Pertama, Thorndike berfokus pada proses mental dan kedua pada perilaku mandiri.
Thorndike memilih bereksperimen dengan kondisi terkontrol. Dalam penelitiannya,hewan dikurung di dalam kandang dengan meletakkan makanan di luar. Tugas hewan adalah membuka sangkar dan mengambil makanan. Eksperimen ini disebut pengkondisian instrumental untuk merefleksikannya dengan pengkondisian klasik dan dikenal sebagai teori moneksionisme karena hewan membangun koneksi antara stimuli dengan perilaku mandiri.
Thorndike mengidentifikasikan tiga hukum belajar
1.      Hukum efek : suatu keadaan yang memuaskan setelah respon akan memperkuat koneksi antara stimulus dan perilaku yang tepat,dan keadaan yang menjengkelkan akan melemahkan koneksi tersebut.
2.      Hukum latihan : pengulangan dari pengalaman akan meningkatkan peluang respon respon yang benar.
3.      Hukum kesiapan : kondisi yang mengatur keadaan disebut sebagai ‘’memuaskan” atau “menjengkelkan”

Psikologi Gestalt
Gestalt berfokus pada persepsi dalam belajar. Individu merespon keseluruhan ketimbang sebagian, individu akan membangun persepsi ketimbang hanya menerima informasi secara pasif.

Asumsi daar teori Gestalt
1.      Perilaku molar adalah perilaku yang harus dipelajari
2.      Individu memahami aspek dari lingkungan sebagai stimuli
3.      Lingkungan geografis berbeda dengan behavioris yang merupakan cara sesuatu meuncul.
4.      Organisasi lingkungan sensoris adalah interaksi dinamis dari kekuatan-kekuatan di dalam struktur yang mempengaruhi persepsi individu.

Hukum Gestalt dasar
1.      Hukum Pragnanz
Hukum ini menunjukkan pengorganisasian psikologis terhadap sekelompok stimuli. Dalam setiap rangkaian stimulus,individu akan mempersepsikan stimulus yang paling komperhensif, stabil, dan bebas dari sebab-akibat.
2.      Hukum terkait
Hukum organisasi perseptual memdeskripsikan empat karakteristik utama dari bidang visual yang mempengaruhi persepsi. Karakteristik itu adalah kedekatan dari setiap elemen, ciri yang sama, tendensi elemen, dan kontribusi elemen 

Belajar Berubah-Ubah dan Bermakna
           Dalam mengaplikasikan konsep struktur dan keseluruhan ke dalam analisis belajar, Wertheimer membedakan antara metode belajar “tanpa makna” dan belajar “bermakna” di kelas (Katona 1967). Wertheimer (1945/1959) mengamati bahwa setelah anak mempelajari pendekatan pemecahan masalah tertentu, seperti menentukan luas jaringan jenjang, mereka sering kali tidak mampu melihat pendekatan lain untuk tugas serupa. Mereka biasanya berkata “Kami belum tahu.”
      Implikasi dari contoh ini adalah bahwa penyediaan informasi yang membantu siswa untuk mereorganisasi sudut pandang masalah harus menjadi bagian integral dari pengajaran pemecahan masalah.

Faktor-faktor Spesifik dalam Pemecahan Masalah
     Teoritisi Gestalt lainnya mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi dalam pemecahan masalah. Konsep yang relevan untuk saat ini adalah latihan mentransfer, pendekatan masalah dan kelakuan fungsional, dan belenggu masalah.

Latihan Menstransfer. Riset Katona menindikasikan bahwa metode yang disebut  sebagai “penemuan dengan panduan” adalah metode yang paling efektif. Dia mengilutrasikan  enam transisi dalam konfigurasi korek api dengan hanya memindahkan beberapa barang korek. Misalnya dengan memindahkan tiga batang dapat menciptakan “lubang” di tengah konfigurasi. Metode ini memberikan petunjuk untuk memecahkan problem lain dengan mengilutrasikan prinsip struktual bahwa satu batang korek mungkin berfungsi sebagai satu sisi dalam dua segi empat secara bersamaan.

Pendekatan Masalah dan Kekakuan Fungsional. Analisis Duncker terhadap pemecahan masalah yang sukses mengindikasikan ada tiga langkah umum, yaitu: (a) memahami konflik atau masalah; (b) mengembangkan identifikasi secara jelas dan atas kesulitan dasar, dan (c) mengembangkan solusi masalah untuk mengatasi kesulitan dasar.

Belenggu Masalah. Konsep yang terkait adalah belenggu masalah atau Einstellung. Konsep ini di identifikasi oleh Abraham Luchins (1942), yang diartikan sebagai kelakuan dalam pemecahan masalah karena individu menganggap serangkaian masalah mesti dipecahkan dengan cara yang sama.

PERBANDINGAN ANTARA BEHAVIORISME DAN TEORI GESTALT
      Kedua teori ini mengilutrasikan perkembangan pengetahuan melalui pengukuran yang akurat dan riset dalam kondisi yang terkontrol.

Aplikasi ke Pendidikan
       Psikologi Behaviorisme dan Gestalt mendasarkan risetnya pada asumsi yang berbeda mengenai sifat dan belajar dan fokus pada studinya. Behaviorisme mendefinisikan belajar sebagai perubahan perilaku dan mengidentifikasikan stimuli dan respons spesifik sebagai fokus set. Sebaliknya, psikologi Gestalt berpendapat bahwa seseorang merespons stimuli yang terorganisasi dan persepsi perorangan adalah faktor penting untuk memcahkan masalah.

Behaviorisme
      Pengkondisian klasik menunjukkan bahwa penjajaran stimuli dapat menghubungkan reaksi terhadap stimuli baru. Selain kontribusi untuk psikologi (deskripsi neuroses dan faktor dalam kecanduan obat), pengkondisian klasik juga membahas aspek-aspek dari situasi sehari-hari.

Psikologi Gestalt
       Isu yang diangkat psikologi Gestalt untuk masalah pendidikan adalah soal makna, pemahaman, dan wawasan yang merupakan karakteristik manusia ((Wertheimer, 1991). Program komputer, sebaliknya, dapat menjadi model pemecahan masalah manusia hanya setelah informasi yang relevan tentang masalah diperoleh dan dimasukkan dalam program. Hal penting dalam belajar pemecahan masalah adalah memahami elemen sentral dan membedakannya dari elemen periferal atau tidak penting (Wertheimer).


Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO